Orang mukmin adalah sosok manusia
yang memiliki prinsip hidup yang dipeganginya dengan erat. Ia berkerja sama
dengan siapapun dalam kebaikan dan ketakwaan. Jika lingkungan sosialnya
mengajak kepada kemungkaran, ia mengambil jalan sendiri.
Orang mukmin yang sejati mempunyai
harga diri, tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang hina. Apabila ia terpaksa
melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak pantas, perbuatannya itu ia
sembunyikan dan tidak dipertontonkan di hadapan orang banyak. Ia masih memiliki
rasa malu jika aibnya diketahui –apalagi—ditiru
orang banyak. Karenanya
sungguh aneh, saat ini seorang terdakwa kasus pornografi –yang terbukti
melakukan maksiat dan menvideokannya—masih bisa tersenyum dan tak merasa
bersalah di depan publik.
Seorang mukmin yang baik, ia berani menegakkan
kebenaran sekalipun rasanya pahit. Untuk memenuhi perintah Allah, tidak untuk
memperoleh maksud duniawi yang rendah dan untuk tujuan jangka pendek dan
kenikmatan sesaat. Jika ia membiarkan kebatilan mendominasi kehidupan, maka
imannya seolah terjangkiti virus kelemahan. Seorang mukmin teguh pendirianya,
bagaikan batu karang di tengah lautan. Tegar dari amukan badai dan hempasan
gelombang serta pasang surut lautan.
Kekuatan jiwa seorang muslim,
terletak pada kuat dan tidaknya keyakinan yang dipeganginya. Jika akidahnya
teguh, kuat pula jiwanya. Tetapi jika akidahnya lemah, lemah pula jiwanya. Ia
tinggi karena menghubungkan dirinya kepada Allah Yang Maha Agung dan Maha
Tinggi.
Orang beriman dalam beramal dan
mengabdi hanya mengharapkan ridha Allah semata. Ia merupakan manusia yang
menakjubkan. Karena ia dianggap sebagai inti (jauhar) dari unsur-unsur yang ada
di alam semesta. Tak peduli julukan, stigma atau sebutan negatif oleh pihak
lain.
Iman akan selalu memberikan
ketegaran, keteguhan jiwa kepada pemiliknya, sekalipun berhadapan dengan
kezaliman raja, bahkan melawannya.
قَالُوا لَن نُّؤْثِرَكَ عَلَى مَا
جَاءنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالَّذِي فَطَرَنَا فَاقْضِ مَا أَنتَ قَاضٍ إِنَّمَا
تَقْضِي هَذِهِ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا
"Kami sekali-kali tidak akan
mengutamakan kamu daripada bukti-bukti yang nyata (mukjizat), yang telah datang
kepada kami dan daripada Tuhan yang telah menciptakan kami; Maka putuskanlah
apa yang hendak kamu putuskan. Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memutuskan
pada kehidupan di dunia Ini saja.” (QS. Thaha (20) : 72).
Imanlah memberikan ketenangan jiwa
Nabi Musa as. ketika dihadapkan dengan kenyataan pahit.
Penulis: Salah Satu
Mahasiswa Ilmu Administrasi Negara, Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik
Universitas Tribuwana Tunggudewi Malang

Tidak ada komentar:
Posting Komentar