Bahasa merupakan unsur penting dalam
dunia sastra. Bahasa digunakan sastrawan sebagai media untuk menyampaikan ide
atau gagasannya kepada masyarakat luas. Dalam dunia sastra, bahasa dapat
dikatakan sebagai “jembatan” yang menghubungkan sastrawan dan masyarakat luas.
Ada sebagian orang menganggap bahasa sastra berbeda dengan bahasa dalam
kehidupan kita sehari-hari.
Sebenarnya keduanya sama saja. Jika antara yang
satu dengan yang kedua berbeda, masyarakat luas tidak akan mengerti bahasa yang
digunakan sastrawan dalam karya sastra yang diciptakannya. Padahal pada
kenyataannya bahasa sastra dimengerti oleh masyarakat luas. Hal yang terakhir
ini menunjukkan bahwa bahasa sastra dan bahasa dalam kehidupan nyata kita
sehari-hari adalah sama.
Dalam kaitannya dengan sastra di
Indonesia, bahasa Indonesia dan bahasa daerah termasuk bahasa Banjar menjadi
unsur penting yang digunakan sastrawan untuk menyampaikan ide-idenya kepada
masyarakat luas sebagai penikmatnya. Bahasa Indonesia dipakai dalam puisi,
prosa piksi seperti cerpen dan novel, dan drama di Indonesia. Bahasa daerah
termasuk bahasa Banjar juga dipakai dalam karya sastra di Indonesia seperti
dalam cerpen dan pementasan teater tradisional khas Banjar, yakni mamanda.
Hal di atas menunjukkan bahwa bahasa
Indonesia dan bahasa Banjar penting dalam kehidupan dunia sastra di tanah air
kita. Jika demikian halnya, apakah dunia sastra juga penting dalam kehidupan
bahasa Indonesia dan bahasa Banjar di tanah air kita? Jawabannya adalah ya.
Mengapa jawabannya adalah ya? Jawaban atas pertanyaan yang terakhir ini dapat
Anda temukan dalam paparan berikut ini.
Sebagaimana yang telah dipaparkan di
atas bahwa sastrawan menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa Banjar dalam
karya sastra yang diciptakannya untuk berkomunikasi dengan masyarakat
penikmatnya. Hal ini berarti bahwa dalam sastra, bahasa menjadi unsur yang
langsung disentuh masyarakat luas.
Kita sebagai masyarakat luas
langsung membaca atau mendengarkan bahasa Indonesia atau pun bahasa Banjar
dalam karya sastra yang kita baca atau kita dengarkan dalam pementasan. Dengan
kata lain, yang kita baca atau kita dengarkan dalam karya sastra adalah bahasa
Indonesia atau bahasa Banjar. Jika bahasa Indonesia dan bahasa Banjar yang
digunakan sastrawan dalam karya sastra, berarti dengan membaca atau
mendengarkan bahasa dalam karya sastra tersebut masyarakat luas pun menggunakan
bahasa Indonesia dan bahasa Banjar.
Dengan demikian, bahasa Indonesia dan
bahasa Banjar digunakan sastrawan dan masyarakat penikmatnya sehingga kedua bahasa
ini akan bertambah lestari. Dengan kata lain kehidupan bahasa Indonesia dan
bahasa Banjar akan bertambah lestari dengan adanya dunia sastra di Indonesia.
Jadi, sastra Indonesia dan sastra
Banjar dengan bahasa Indonesia dan bahasa Banjar saling menunjang satu sama
lain. Jika kita menggunakan istilah biologi, hubungan sastra Indonesia dan
sastra Banjar dengan bahasa Indonesia dan bahasa Banjar kita katakan sebagai
simbiosis mutualisme.
Berdasarkan paparan di atas, kita perlu membaca karya sastra dalam bentuk buku maupun dalam media cetak dan mendengarkan karya sastra yang dipentaskan jika kita ingin bahasa Indonesia dan bahasa Banjar bertambah lestari. Dewasa ini sudah banyak karya sastra yang diterbitkan dalam bentuk tulisan di Indonesia. Kita dapat membaca karya-karya sastra yang telah diterbitkan tersebut.
Kita
juga dapat mendengarkan karya sastra yang dipentaskan. Selain itu jika ingin
menjadi sastawan, Anda dapat pula belajar menjadi sastrawan dalam upaya
melestarikan bahasa Indonesia dan bahasa Banjar di tanah air yang kita cintai
ini
Penulis: Salah Satu
Mahasiswa Ilmu Administrasi Negara, Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik
Universitas Tribuwana Tunggudewi Malang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar