Dalam perjanjian kau akan merawat dan
menjaganya dalam situasi dan kondisi apapun dan bahkan kau sudah mengatakan
didepan banyak umat kalau kau bersedia menjalankan semua kepercayaan masyarakat
terhadapmu. Wahai pemimpin rakyat sedang apa kau hari ini...? bisakah kau
mendengarkan jeritan rakyat yang sedang dilanda musibah besar berupa banjir
yang sudah beberapa kali meluap terhadap kotaku ini, sedangkan rakyat terus
akan kelaparan kalau air masih belum bisa surut seperti saat ini. Sedangkan kau
hanya bisa santai menikmati kopi hangat dan menaikan kaki menghisap rokok
melihat kondisi rakyat yang sedang sibuk membersihkan kotoran sampah yang
mengelilingi halaman rumah.
Wahai wakil rakyat yang terhormat buat apa kau
membentuk undang-undang kalau kau tidak bisa merubah situasi dan kondisi
lingkungan semakin kocar kacir dengan air mata yang begitu derasnya
mengalir.sehingga, rakyat tak tau arah
mau kemana ia akan mengadu. Sedangkan
pemimpin rakyat yang dengan tekadnya mencalonkan diri waktu dipilkada
tahun lalu dengan perjanjan yang meyakinkan kepada rakyat akan mensejahterakan
rakyat. Tapi itu semua hanyalah janji palsu yang diberikan pemimpin kita
terhadap rakyat dengan membiarkan rakyat terlantar ketika rakyat sedang
membutuhkan pertolongan pemimpin kita.
Lupakah kau waktu momentum pesta demokrasi
saat kau mengemis-ngmis kepada rakyat, sampai kau mendudukki kursi kekuasaan
yang sampai saaat ini kau masih menikati kenyamanan. Tapi kenapa setelah itu,
kau hanya menjadi penikmat sejati untuk membuktikan omongan romantismu ketika
ngemismu enjadi penguasa. Rakyat sedang sengsara, kau hanya tertawa dengan
keuntungan melimpah. Ingat para wakil rakyat suara rakyat adalah suara tuhan. Jika
kau tidak bisa memberikan kesejahteraan terhadap rakyat, maka kau akan
tertindas akan kutukan rakyat yang kau teinggalkan.
penulis: Mahasiswa Ilmu Administrasi Negara
Fakultas Sosial Politik, Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Tidak ada komentar:
Posting Komentar