Rabu, 29 Maret 2017

TETESAN AIR MATA


Dalam perjanjian kau akan merawat dan menjaganya dalam situasi dan kondisi apapun dan bahkan kau sudah mengatakan didepan banyak umat kalau kau bersedia menjalankan semua kepercayaan masyarakat terhadapmu. Wahai pemimpin rakyat sedang apa kau hari ini...? bisakah kau mendengarkan jeritan rakyat yang sedang dilanda musibah besar berupa banjir yang sudah beberapa kali meluap terhadap kotaku ini, sedangkan rakyat terus akan kelaparan kalau air masih belum bisa surut seperti saat ini. Sedangkan kau hanya bisa santai menikmati kopi hangat dan menaikan kaki menghisap rokok melihat kondisi rakyat yang sedang sibuk membersihkan kotoran sampah yang mengelilingi halaman rumah.

Wahai wakil rakyat yang terhormat buat apa kau membentuk undang-undang kalau kau tidak bisa merubah situasi dan kondisi lingkungan semakin kocar kacir dengan air mata yang begitu derasnya mengalir.sehingga,  rakyat tak tau arah mau kemana ia akan mengadu. Sedangkan  pemimpin rakyat yang dengan tekadnya mencalonkan diri waktu dipilkada tahun lalu dengan perjanjan yang meyakinkan kepada rakyat akan mensejahterakan rakyat. Tapi itu semua hanyalah janji palsu yang diberikan pemimpin kita terhadap rakyat dengan membiarkan rakyat terlantar ketika rakyat sedang membutuhkan  pertolongan pemimpin kita.
Lupakah kau waktu momentum pesta demokrasi saat kau mengemis-ngmis kepada rakyat, sampai kau mendudukki kursi kekuasaan yang sampai saaat ini kau masih menikati kenyamanan. Tapi kenapa setelah itu, kau hanya menjadi penikmat sejati untuk membuktikan omongan romantismu ketika ngemismu enjadi penguasa. Rakyat sedang sengsara, kau hanya tertawa dengan keuntungan melimpah. Ingat para wakil rakyat suara rakyat adalah suara tuhan. Jika kau tidak bisa memberikan kesejahteraan terhadap rakyat, maka kau akan tertindas akan kutukan rakyat yang kau teinggalkan.

penulis: Mahasiswa Ilmu Administrasi Negara
Fakultas Sosial Politik, Universitas Tribhuwana Tunggadewi



Tidak ada komentar:

Posting Komentar